SENTRA SUTERA ALAM GARUT MULAI BANGKIT KEMBALI

Sutra alam telah di kenal sebagai komoditi HHBK yang mempunyai banyak keunggulan dalam pengembangannya. Usaha sutera alam termasuk juga pada usaha yang relatif gampang ditangani, berteknologi simpel, berbentuk padat karya, cepat membuahkan serta bernilai ekonomis tinggi. Hal semacam ini disibakkan oleh Minarningsih serta Rosita Dewi peneliti Pusat Litbang Rimba dalam Buku Bunga Rampai “Membangun Hasil Rimba yang tersisa”.

Sutera alam yang dahulu pusatnya yaitu Sulawesi Selatan, saat ini mulai tumbuh di daerah lain. Propinsi Jawa Barat adalah satu diantara daerah yang cukup tampak progress perubahannya yakni di Kab. Cianjur, Kab. Bogor, Kab. Sukabumi, serta Kab. Garut.

Histori awal pengembangan sutera alam di Kab. Garut telah diawali mulai sejak berpuluh th. waktu lalu, yakni sekitaran th. 1930-1940an. Semula di kenal di daerah Kec. Cisurupan serta Kec. Wanaraja. Perubahannya yang maju sampai produksinya di pasarkan untuk penuhi bahan baku pengrajin sutera di Sulawesi. Tetapi mulai sejak th. 1950an sampai 1970an usaha sutera alam di daerah ini mulai alami kemunduran, Kata Minar.

Sutera Garut pernah berkembang kembali mulai th. 1980an bahkan juga pernah di bangun Sub-Centre Persuteraan Alam di Kec. Cisurupan, Kab. Garut. Tetapi di lapangan produksinya masihlah terbatas bahkan juga belum dapat penuhi keperluan pasar baik dalam negeri terlebih sampai eksport. Sebagian aspek yang memengaruhi diantaranya pengetahuan serta ketrampilan beberapa petani serta pengarajin, minimnya.kurang tersedianya tempat murbei, minimnya.kurang tersedianya modal usaha sampai persoalan classic yakni tak ada jaminan pasar walau keinginan bakal benang sutera condong naik sampai mesti import dari luar negeri.

Selanjutnya minar menerangkan, seiring waktu berjalan, gaung pengembangan HHBK dengan cara nasional tingkatkan perhatian pemerintah daerah Kab. Garut pada pengambangan HHBK hingga menimbulkan sebagian komoditas unggulan kabupaten. Hal itu dituangkan dalam SK Bupati Garut No. 522/KEP. 617-DISHUT/2010 tanggal 30 Desember 2010 mengenai Penetapan Hasil Rimba Bukanlah Kayu (HHBK) Unggulan, yang diantaranya mengatakan kalau type HHBK unggulan dari Kab. Garut yaitu Jamur Kayu, Lebah Madu serta Sutera. Spesial untuk sutera alam, usaha yang dikerjakan yaitu untuk menghidupkan hulu persuteraan alam di Kab. Garut dengan pelebaran murbei untuk tingkatkan produksi kokon (ekstensfikasi).

Diluar itu, aspek utama dalam geliat pengembangan HHBK ulat sutera yaitu mulai timbulnya industri – industri pemintalan serta pertenunan di Sukabumi, Cianjur serta Garut jadi penarik ketertarikan lantaran dikira ada jaminan pasar untuk pengembangan persuteraan alam di bidang hulu intinya untuk petani sutera sebagai pelaku paling utama.

Aspek kejayaan saat lantas, Garut adalah daerah yang penuhi prasyarat untuk budidaya murbei serta ulat sutera. Kelembagaan petani yang sudah ada dan perhatian dari stakeholder berkaitan termasuk juga support tehnologi dari Pusat Litbang Rimba, Tubuh Litbang serta Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup serta Kehutanan jadi aspek positif untuk optimis meningkatkan Sutera Alam.

Minar mengemukakan, pengembangan HHBK Unggulan Sutera Alam di Kab. Garut sesungguhnya dapat lebih terukur lantaran sesuai sama SK Dirjen BPDASPS No. P. 1/V_SET/2014 mengenai Dasar Tehnis Pembentukan Sentra HHBK Unggulan. Hal itu menginisiasi pemerintah daerah Kab. Garut untuk membuat Gagasan Pengembangan Sentra Sutera Alam pada th. 2014 yang disebut satu diantara bentuk penggalangan prinsip stakeholder di daerah untuk membuat sentra sutera alam. lalu dikuatkan dengan keluarnya SK Bupati Garut No. 522/Kep. 903-DISHUT/2014 tanggal 29 Desember 2014 mengenai Penetapan paguyuban Persuteraan Alam Kabupaten Garut sebagai Sentra HHBK Unggulan.

Postingan Populer